KARTASURA, 15 Agustus 2020

Palestina merupakan sebuah negara Timur Tengah yang terletak diantara Laut Tengah dan Sungai Yordan. Status politiknya masih dalam perdebatan banyak pihak. Sebagian besar negara di dunia termasuk negara-negara anggota OKI, Liga Arab, Gerakan Non-Blok, dan ASEAN telah mengakui keberadaan Negara Palestina.

         Kabar penghapusan negara Palestina dari tampilan peta digital di Apple dan Google, menjadi perbincangan di media sosial. Hal ini mulai mencuat pada tahun 2016, ketika Perusahaan Apple dan Google dituding menghapus peta Palestina dari maps mereka. Namun dua perusahaan itu mengklaim bahwa sedari dulu memang tidak pernah membubuhkan label Palestina di wilayah tersebut.

          Menteri Luar Negeri Palestina, Riyad Al Maliki, menuturkan telah mengirim surat resmi kepada manajemen kedua perusahaan itu sebagai protes atas penghapusan tersebut. “Menghapus nama negara Palestina di peta kedua perusahaan tersebut merupakan pelanggaran terhadap hukum internasional dan tunduk pada tekanan dan pemerasan yang dilakukan Israel, dan jika mereka tidak menarik kembali tindakan mereka, kami akan mengajukan tuntutan hukum terhadap mereka,” kata Al Maliki saat diwawancara radio resmi pemerintah Palestina pada Minggu

         Sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina, masyarakat dunia menerbitkan sebuah petisi Change.org agar Google membubuhkan label Palestina di petanya. Petisi ‘Google: Letakkan Palestina di Peta Anda!’ tetap aktif hingga sekarang dan telah menerima lebih dari 800.000 tanda tangan. Petisi itu juga menambahkan bahwa “dua pendiri Google memiliki hubungan dekat dengan Israel dan para pemimpinnya.”

        Hal ini tidak lepas dari keberpihakan Amerika kepada Israel yang tidak mengakui keberadaan Palestina. Keberpihakan Amerika juga diperkuat oleh dua perusahaan besar asal Amerika yaitu, Apple dan Google yang meniadakan peta Palestina dari Maps. Israel sendiri merupakan negara hasil dari United Nations Partition Plan for Palestine (rencana pembagian wilayah Palestina oleh PBB).

        PBB menganjurkan pembentukan dua negara di dalam wilayah Palestina, satu wilayah untuk orang-orang Yahudi, yang dikenal sebagai Israel, dan satu untuk orang Arab yaitu negara Palestina. Orang-orang Yahudi di Palestina menerima rencana itu dengan suka cita, sementara orang-orang Arab dengan keras menolak ketidakadilan ini. Teritorial Negara Israel pun kian jauh lebih besar dari yang semula diusulkan oleh PBB, 50% lebih besar dari yang diusulkan. Sedangkan luas negara Palestina semakin mengecil sejak tahun 1946 hingga kini.

          Express mengungkapkan tidak adanya Palestina ada kaitannya dengan pengakuan Palestina sebagai negara merdeka. Ada 138 anggota PBB yang akui Palestina sebagai negara merdeka. Namun sebagian besar negara barat tidak mengakui kemerdekaan palestina. Salah satunya, Amerika Serikat (AS), yang merupakan kantor pusat Google dan Apple.

         Dalam hal ini, kita jangan berdiam diri melihat ketidakadilan terhadap Palestina yang notabene merupakan negara islam yang belum sepenuhnya merdeka. Oleh karena itu, marilah kita menyumbang melalui apa yang kita punya, setidaknya melalui doa kepada warga Palestina.

Sesi Tanya Jawab

1. Penanya: Radifan ( X )

    Pertanyaan: Apakah orang atau media yang memberikan bantuan kepada Palestina melalui donasi, mengambil keuntungan dari itu?

    Jawaban pemateri: Tidak, pemberian donasi tersampaikan ke Palestina. Biaya yang diberikan donatur, murni 100% tersampaikan ke sana.

2. Penanya: Keyla ( XI IPA )

    Pertanyaan: Amerika mendapatkan hak VETO dari PBB yang notabene menjunjung tinggi HAM. Namun perlakuan Amerika terhadap Palestina tidak mencerminkan hal itu, mengapa?

    Jawaban pemateri: Hal ini dikarenakan Amerika lebih berpihak kepada Israel, dimana Israel merupakan musuh bagi Palestina.

3. Penanya: Rohmat Sholeh ( X )

    Pertanyaan: Indonesia lebih mendukung Palestina, namun belum terlihat dukungan itu.

   Jawaban pemateri: Hal itu tidak sepenuhnya benar, sudah banyak donasi ke Palestina.

4.  Penanya: Cavee ( XI IPA )

    Pertanyaan: Apabila Indonesia makin ikut campur dengan urusan Israel, maka Israel tidak akan tinggal diam.    Jawaban pemateri: Indonesia sudah siap dan siaga apabila muncul peperangan.